,

Menakar Kekuatan Trah Soekarno di Jatim, Puti Resmi Dampingi Gus Ipul

Surabaya, areknews – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akhirnya resmi mengusung Puti Guntur Soekarno menggantikan Bupati Banyuwangi Azwar Anas sebagai calon Wakil Gubernur mendampingi Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Pilkada Jawa Timur. Puti adalah cucu Proklamator dan Presiden pertama Indonesia, Sukarno, dari anak pertamanya Guntur Soekarnoputra.

PDIP dinilai sangat cerdik mengusung anak dari Guntur Soekarnoputra tersebut. Kemunculan Puti boleh jadi merupakan by design yang dilakukan oleh PDIP. Sebab, sebelum terpilih sebagai Cawagub Jatim, dia pernah digadang-gadang maju di Pilkada DKI Jakarta untuk melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Begitu pula di Pilgub Jawa Barat tahun 2018. Namanya mencuat sebagai sosok yang dipertimbangkan bakal diusung oleh PDIP. Tapi entah bagaimana ceritanya, langkah Puti kini bermuara ke Jatim. Tentu PDIP punya pertimbangan sendiri.

Namun demikian, banyak kalangan menyayangkan keputusan PDIP tersebut. Mengapa tidak Puti saja yang menjadi Cagub Jatim. Padahal, PDIP sangat bisa dan mampu menjadikan trah Soekarno itu sebagai orang nomor satu di Jatim. Ya, Puti lebih cocok menjadi Cagub ketimbang Cawagub. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab pemilik nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri, dikenal memiliki kemampuan sangat baik.

Banyak yang membandingkan Puti dengan Puan Maharani, anak Ketua Umum PDIP Megawati Seokarnoputri. Dia lebih cerdas dari Puan. Maklum, Puti adalah lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Setelah lulus, Puti tidak langsung terjun ke panggung politik. Dia aktif di berbagai kegiatan sosial kemanusiaan. Puti juga sempat menjadi relawan budaya melalui Kelompok Swara Mahardhikka. Setelah itu dia menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati dan Ketua Yayasan Wildan.

Wajar jika selama ini dia kerap ditunjuk sebagai juru kampanye di sejumlah daerah yang calon-calon kepala daerah diusung oleh PDIP. Alasan inilah yang membuat PDIP memilih Puti untuk masuk wilayah Jawa Timur mendampingi Gus Ipul. Sebab, paket keduanya sudah lengkap. Siapapun Cagubnya, meski dibalik pun tetap sama. Keduanya bisa saling mengisi. Puti disebut sosok muda dan wibawa, diprediksi dapat membantu mendongkrak elektabilitas Gus Ipul di Pilgub Jatim.

Pasangan yang pas, cicit pendiri NU ketemu cucu pendiri republik. Gus Ipul merupakan cicit KH Bisri Syansury, salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Kemudian dia akan digandengkan dengan cucu Proklamator RI Soekarno. Inilah duet sejati nasionalis-religius yang diharapkan partai pengusung PDIP dan PKB.

Puti sendiri merupakan anggota Komisi X DPR RI. Dia kader tulen PDIP yang menjabat anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari daerah pemilihan Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, dan Kota Banjar di Jawa Barat.

Tak banyak yang bisa diketahui dari sosok Puti ini. Dari hasil penelusuran, Puti lahir di Jakarta pada 26 Juni 1971. Ibundanya bernama Henny Emilia Hendayani yang disebut-sebut memiliki keturunan kerajaan Galuh (tahun 669 M) dengan ibu kota di daerah Kawali, sekarang wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Di PDIP, Puti sering disebut sebagai trah tersembunyi Soekarno. Maklum, Guntur merupakan anak pertama Soekarno, sedangkan Megawati anak kedua Soekarno. Kini, anak Megawati (Puan) menempati posisi elit atau tertinggi di PDIP dan lantas menjadi menteri di kabinet Presiden Joko Widodo.‎

Kagumi Sosok Bung Karno

Foto-utama-Puti-696x464

Meski dia notabene cucu Proklamator Bung Karno, namun Puti mengaku awalnya tidak paham dengan sosok sang kakek. “Saya tidak tahu eyang Soekarno. Dari situlah saya diperkenalkan papa dengan buku Soekarno, tentang buku ‘Bung Karno penyambung lidah rakyat’ karya Cindy Adam, saya mulai paham,” terangnya. Puti mengungkapkan sosok kakeknya adalah seorang pemimpin yang islami. Apabila banyak orang mengatakan dia komunis atau kekirian, itu salah. “Eyang sangat islami. Dia pancasilais sejati. Hanya sejarah yang mengaburkan semua itu,” urai Puti.

Setelah membaca buku-buku tentang Soekarno, Puti mengerti sosok eyangnya tersebut. Menurutnya apa yang telah dibacanya pada buku sejarah pada saat dirinya SMP itu salah besar. “Setelah banyak yang mengatakan Bung Karno kekirian, komunis, tapi setelah saya tau itu semua salah. Karena Bung Karno itu sendiri islami, dan mempunyai islam yang kuat, dan itu ada di semua bukunya. Sampai saat ini buku-buku yang pernah saya baca ada di referensi saya jika membahas soal Bung Karno,” kata Puti.

Dijelaskan Puti, saat ini sejarah bangsa Indonesia sudah banyak diubah. Telebih pada buku sejarah di pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena setiap pergantian penguasa bisa saja mengaburkan sejarah, bahkan menghapus sejarah itu. “Mau tidak mau kita harus mengakui, de-Soekarnoisasi, 32 tahun kita punya masa kelam saat Orde Baru kita disuruh untuk menutup nama Soekarno, atau kebesaran Soekarno atau mengaburkan sejarah Bung Karno,” ujarnya.

Puti mengakui, selama 32 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Selama waktu itu, sejarah Bung Karno buram. Padahal dari sosok Soekarno merupakan pemimpin yang taat agama, bukan orang komunis. “32 tahun itu tidak waktu sedikit dan sitematis, masif yang saya rasakan, pada pelajaran sejarah waktu saya SMP, itu sangat sekali ditutupi soal perjuangan Bung Karno, dan terhadap bangsa ini,” lanjutnya. Dalam berpolitik, Puti selalu menunjukkan jiwa kepemimpinan luwes dan matang. Gaya bicaranya pun mirip Megawati. Begitu pula saat berorasi, Puti mewarisi gaya orasi Bung Karno.xco