Sisi Gelap Kreativitas di Balik Jeruji, Sendok Tajam Jadi Alat Pelindung Diri

Kediri, areknews— Lembaran kartu remi kusam dan belasan sendok makan aluminium mungkin tak bernilai di luar sana. Namun di balik tembok Blok A, B, dan C Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri, benda-benda harian ini bergeser fungsi: menjadi komoditas berharga sekaligus ancaman keamanan.

Akal dan kejelian warga binaan di balik jeruji besi kembali menguji ketelitian aparat. Saat razia gabungan digelar bersama personel TNI, Polri, dan BNN Kota Kediri pada Selasa, 22 September 2026, petugas tak menemukan satu pun ponsel pintar maupun selundupan narkoba. Penggeledahan justru membongkar siasat para penghuni lapas dalam menyulap barang sehari-hari.

Dalam sidak tersebut, tim gabungan menyita:

  • 3 Senjata Tajam Rakitan Super Tajam:
    Diproduksi dari sendok makan berbahan aluminium keras yang diasah secara sembunyi-sembunyi hingga runcing. Alat ini dipersiapkan sebagai senjata perlindungan diri maupun ancaman penyerangan fatal.
  • 10 Paku dan Jarum Pinset:
    Barang rawan yang kerap disalahgunakan untuk merusak fasilitas tahanan hingga alat bantu aksi kejahatan internal.
  • 12 Korek Gas dan 9 Sendok Aluminium:
    Bahan baku potensial yang terus dimodifikasi jika tidak segera diamankan.
  • Beberapa Set Kartu Remi dan Domino Kusam:
    Di luar lapas dianggap sampah, namun di balik sel benda ini menjadi “mata uang” judi yang siap memicu gesekan, pertikaian darah, hingga bentrokan antarblok.

Sendok makan berbahan keras kerap diubah menjadi alat pelindung diri atau senjata tajam rakitan. Sementara kartu permainan kerap menjadi pemicu gesekan dan konflik antarpenghuni di dalam sel yang sempit.

Ujian Konsistensi Pintu Masuk

Temuan ini mempertegas bahwa tantangan pemasyarakatan tak sekadar menghadang masuknya barang haram dari luar, melainkan juga membaca potensi bahaya dari modifikasi benda sederhana di dalam kamar sel.

Meski demikian, nihilnya temuan narkoba dan ponsel—diperkuat dengan hasil tes urine warga binaan serta petugas yang seluruhnya negatif—menjadi penanda penting pelaksanaan komitmen Zero Halinar (Zero HP, Pungli, dan Narkoba) di Lapas Kediri. Langkah ini diklaim sebagai bagian dari deteksi dini gangguan keamanan yang diselaraskan dengan Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

“Hasil penggeledahan tidak menemukan handphone maupun narkoba, dan seluruh tes urine negatif. Ini komitmen kami untuk terus menjaga Lapas tetap aman dan kondusif,” ujar Kepala Lapas Kelas IIA Kediri, Gatot Tri Rahardjo.

Apresiasi senada disampaikan Kepala BNN Kota Kediri, Yudha Wirawan. Menurut dia, sinergi antar-instansi menjadi kunci utama memutus rantai peredaran gelap narkotika di dalam lembaga pemasyarakatan.

Capaian “bersih-bersih” ini lantas menyisakan pertanyaan krusial: sejauh mana pengetatan di pintu masuk utama dapat dipertahankan secara konsisten dalam operasional harian, bukan sekadar ketat saat razia besar-besaran digelar? Taruhan utamanya adalah memastikan predikat Zero Halinar benar-benar mengakar, bukan sekadar klaim di atas kertas.ade/wan