Surabaya, areknews – Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Drs. H. Buchori Imron, menyampaikan kritik konstruktif serta gagasan besar terkait arah pembangunan ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya. Politisi senior ini menekankan bahwa pemerintah kota harus mulai berani mengambil langkah strategis yang lebih luas, baik dalam pengelolaan aset maupun penarikan investasi skala internasional. Dorong Optimalisasi Aset di Wilayah Barat
Buchori menyoroti potensi besar di Surabaya Barat yang kini berkembang pesat sebagai pusat investasi. Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus lebih jeli mengelola Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) yang telah diserahkan oleh investor untuk mendongkrak PAD.
”Di wilayah Barat banyak pengembangan. Fasilitas seperti parkir di area publik yang selama ini gratis, mestinya bisa dikelola profesional oleh Pemkot agar masuk ke kas daerah. Jangan sampai potensi PAD hilang begitu saja,” tegasnya.
Ia juga mendorong percepatan Jalur Luar Lingkar Barat (JLLB) sebagai solusi kemacetan sekaligus stimulus ekonomi.
Kritisi Proyek Mangkrak di Wilayah Timur
Beralih ke Surabaya Timur, Buchori menyayangkan banyaknya proyek infrastruktur bernilai ratusan miliar rupiah, seperti Jembatan Surabaya di Kenjeran, yang dinilai belum memberikan kontribusi ekonomi nyata.
”Jembatan Surabaya dibangun dengan biaya besar, tapi sejauh ini belum menghasilkan apa-apa bagi PAD. Begitu juga dengan Sentra Ikan Bulak dan Taman Harmoni. Pemkot harus kreatif mengelola pariwisata agar Surabaya tidak kalah bersaing dengan daerah lain seperti Malang, Batu, atau bahkan Banyuwangi,” ungkapnya.
Gagas Kereta Gantung ‘Raksasa’ 20 Kilometer
Salah satu gagasan paling berani yang disampaikan Buchori adalah pengembangan wisata kereta gantung. Ia mengkritisi rencana lama yang hanya mencakup jarak 800 meter di Tambak Wedi.
”Kalau cuma 800 meter itu bukan kereta gantung, tapi ‘kereta gandulan’. Saya mengusulkan kereta gantung ini dibangun dari Tambak Wedi hingga Mangrove Wonorejo sepanjang 20 kilometer. Ini bisa menjadi kereta gantung terpanjang di Asia Tenggara,” paparnya.
Konsep yang diusung adalah wisata integrasi. Di setiap titik transit, seperti Sentra Ikan Bulak, Jembatan Surabaya, hingga area Pakuwon dan Taman Harmoni, akan disediakan rest area, pusat UMKM, dan parkir terpadu. Hal ini diyakini akan menghidupkan ekonomi warga sekitar secara drastis melalui sektor pariwisata belanja dan kuliner.
Tantang Wali Kota Cari Investor Skala Global
Lebih jauh, Abah Buchori meminta Wali Kota Surabaya untuk berbagi peran secara efektif dengan Wakil Wali Kota dan jajaran Kepala Dinas. Ia berpendapat bahwa urusan teknis lapangan seperti masalah sampah atau sidak sungai seharusnya menjadi porsi Kepala Dinas atau Wakil Wali Kota.
”Wali Kota seharusnya fokus mencari investor besar ke Jakarta atau mancanegara. Tugas Wali Kota adalah membawa orang luar masuk untuk investasi di Surabaya, dan menarik kembali orang-orang Surabaya yang selama ini justru berinvestasi di luar kota agar mau membangun daerahnya sendiri,” tuturnya.
Ia optimistis, jika Wali Kota fokus pada penarikan investasi besar dan Kepala Dinas bekerja maksimal mengelola potensi yang ada, PAD Kota Surabaya yang saat ini berada di angka Rp 8 triliun bisa melonjak hingga belasan triliun rupiah.
”Jika PAD kita besar, pembangunan akan merata, ekonomi rakyat bangkit, dan Surabaya benar-benar menjadi kota hebat yang cerdas secara finansial maupun infrastruktur,” pungkasnya.xco











