Di Makam Tan Malaka, Peringati HUT RI 81 Lewat Doa dan Merajut Kebangsaan

Kediri, areknews— Tabur bunga sering kali menjadi cara paling mudah mengenang pahlawan. Datang, berdoa, menundukkan kepala, lalu pulang. Sejarah pun selesai dalam hitungan jam.

Namun di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Selasa, 18 Agustus 2026, makam Tan Malaka justru memunculkan pertanyaan yang lebih mengganggu: untuk apa sebuah bangsa memperingati kemerdekaan jika keberanian berpikir kritis ikut dikuburkan bersama sejarah?

Di tempat yang dikaitkan dengan peristirahatan terakhir Ibrahim Datuk Tan Malaka itu, warga, perangkat desa, Modin, kepala desa, Forkopimcam, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan perwakilan pemerintah berkumpul. NU, LDII, Muhammadiyah dan tokoh agama Kristen duduk dalam satu rangkaian kegiatan.

Agenda resminya sederhana: doa bersama, tabur bunga dan sarasehan refleksi kebangsaan. Tetapi Tan Malaka bukan tokoh yang sederhana.

Ia dikenal sebagai pemikir revolusioner yang tidak nyaman dengan kemapanan. Gagasannya tentang republik, kemandirian dan keberanian berpikir membuat namanya tetap relevan bahkan ketika tubuhnya telah lama menjadi bagian dari tanah.

Karena itu, memperingati Tan Malaka dengan sekadar seremoni justru menyisakan ironi. Apakah bangsa ini sedang mengenang pikirannya, atau sekadar merawat makamnya?

Tokoh muda Kediri, Agus Mahrus Aly atau Cak Ebel, memilih melihat pertemuan itu sebagai ruang merajut kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus persaudaraan sebagai sesama warga negara.

“Kita boleh berbeda dalam keyakinan, namun tetap bersatu dalam kebangsaan dan bersama-sama dalam urusan kemanusiaan,” kata Cak Ebel.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun persoalan Indonesia memang sering kali justru bermula dari kegagalan menjalankan sesuatu yang sederhana: menerima perbedaan tanpa merasa perlu menyeragamkan.

Cak Ebel mengatakan Indonesia harus dirajut dari keberagaman menuju sebuah bangsa yang menjadi milik bersama. Persoalannya, merajut Indonesia tidak cukup dengan duduk bersama sehari, berfoto, kemudian membubarkan diri.

Persatuan membutuhkan keberanian menghadapi ketidakadilan, ketimpangan dan polarisasi yang terus tumbuh. Di titik inilah refleksi Tan Malaka menjadi lebih keras.

Dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri, Dr. Nur Solikin, mengatakan perjuangan kemerdekaan bukan sekadar membebaskan Indonesia dari penjajahan fisik. Ada cita-cita agar bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Kini bentuk ancamannya berubah. Tidak ada tentara asing yang harus diusir dari halaman rumah. Tetapi masyarakat menghadapi banjir informasi, manipulasi media sosial, ketergantungan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan dan ketimpangan sosial.

Penjajahan model lama mungkin telah berakhir. Ketergantungan dalam bentuk baru justru bisa tumbuh tanpa disadari. Solikin mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Indonesia benar-benar sudah bebas?

Pertanyaan itu seharusnya tidak berhenti di forum sarasehan. Sebab kebebasan tanpa daya kritis hanya melahirkan masyarakat yang mudah diarahkan. Kemajuan teknologi tanpa kemandirian hanya memperbesar ketergantungan. Dan persatuan tanpa keadilan berpotensi berubah menjadi slogan yang hanya terdengar meriah ketika perayaan kemerdekaan tiba.
Tan Malaka, jika gagasannya dibaca secara utuh, tidak mudah ditempatkan sebagai sekadar ornamen peringatan kemerdekaan. Ia justru mengganggu kenyamanan. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan membutuhkan pikiran yang bebas, keberanian mempertanyakan keadaan dan kemampuan menentukan nasib sendiri.

Maka kegiatan di Selopanggung semestinya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang hadir dan berapa banyak bunga yang ditaburkan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah bunga-bunga itu diletakkan di makam? Apakah masyarakat menjadi lebih kritis? Apakah generasi muda semakin berani berpikir? Apakah pemerintah semakin terbuka terhadap kritik? Dan apakah cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil dan sejahtera semakin dekat?

Jika jawabannya belum, maka ziarah itu belum selesai. Sebab mengenang pahlawan bukan perkara menundukkan kepala di depan makam. Justru sebaliknya: mengenang Tan Malaka berarti berani mengangkat kepala, membuka mata, lalu mempertanyakan keadaan republik.

Dari lereng Wilis, pertanyaan itu kembali muncul. Indonesia memang telah merdeka selama puluhan tahun. Tetapi mungkin pekerjaan terbesarnya belum selesai: memastikan kemerdekaan tidak hanya menjadi tanggal merah, upacara, dan bunga tabur. ade/wan

Latest posts
Search