pemetaan Ulang Zonasi Embarkasi Haji, Direktorat Jenderal Pelayanan Haji Kementerian Agama Tinjau Operasional Dhoho

Kediri areknews — Bandara Internasional Dhoho Kediri mulai mengincar peran baru: pintu keberangkatan jemaah haji dari Jawa Timur bagian selatan. Jika rencana ini terealisasi, konsentrasi penerbangan haji yang selama puluhan tahun bertumpu di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, perlahan akan terurai.

Peluang itu mengemuka setelah Direktorat Jenderal Pelayanan Haji Kementerian Agama meninjau kesiapan operasional Dhoho pada Rabu, 19 Agustus 2026. Peninjauan tersebut menjadi bagian dari pemetaan ulang zonasi embarkasi haji di Jawa Timur.

Dhoho diproyeksikan melayani jemaah dari sejumlah daerah di selatan Jawa Timur, antara lain Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Nganjuk. Selama ini, jemaah dari wilayah tersebut harus bergerak ke Surabaya untuk memulai perjalanan ke Tanah Suci.

Rencana desentralisasi itu kemudian dibahas dalam rapat koordinasi di Hotel Grand Surya Kediri, Kamis, 20 Agustus. Persoalan yang dibedah bukan hanya soal pesawat dan landasan pacu. Ada pembagian slot time, integrasi logistik, serta kesiapan layanan Customs, Immigration, and Quarantine atau CIQ.

Di situlah pekerjaan rumah Dhoho berada. Menjadi bandara embarkasi haji berarti mengoperasikan rantai layanan internasional dalam skala besar. Ribuan jemaah harus bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan. Bagasi, dokumen perjalanan, pemeriksaan imigrasi, bea cukai, karantina, hingga penerbangan harus bekerja sebagai satu sistem.

Bandara yang baru dibangun harus membuktikan bahwa ia bukan hanya memiliki terminal, tetapi juga memiliki sistem.

Daya dukung Dhoho turut ditinjau oleh Saudia Airlines. Maskapai internasional itu mengevaluasi apron dan infrastruktur sisi darat. Evaluasi tersebut menjadi salah satu ukuran apakah Dhoho mampu menangani penerbangan jarak jauh menuju Arab Saudi.

Direktur PT Surya Dhoho Investama, Maksin Arisandi, mengatakan pihaknya siap melakukan penyempurnaan berdasarkan masukan para pemangku kepentingan. “Jika nantinya Dhoho dipercaya mendukung embarkasi haji, kami siap memberikan dukungan penuh agar pelayanan berjalan aman dan lancar,” kata Maksin.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Dhoho Kediri juga menyatakan penguatan teknis terus dilakukan. Kebutuhan maskapai dan ketentuan penerbangan internasional menjadi acuan dalam penyempurnaan fasilitas.

Jika Dhoho akhirnya ditetapkan sebagai embarkasi haji, manfaatnya bukan hanya bagi Kediri. Jemaah dari wilayah selatan Jawa Timur berpeluang menempuh perjalanan darat yang lebih pendek. Distribusi penerbangan haji pun menjadi lebih tersebar.

Juanda, yang selama ini menjadi simpul utama, mendapat peluang untuk mengurangi kepadatan. Namun, memindahkan sebagian trafik haji dari Surabaya ke Kediri bukan perkara administratif belaka. Pemerintah harus memastikan seluruh ekosistem pendukung tersedia. Transportasi jemaah, akomodasi, layanan kesehatan, imigrasi, bea cukai, karantina, keamanan, hingga manajemen penerbangan harus siap pada saat yang sama.

Sebab, dalam urusan haji, kesalahan kecil bisa menjalar menjadi persoalan besar. Karena itu, calon embarkasi Dhoho kini berada pada fase menentukan. Bandara itu sedang diuji untuk naik kelas: dari infrastruktur penerbangan regional menjadi salah satu gerbang internasional Jawa Timur.

Bila berhasil, peta embarkasi haji Jawa Timur berubah. Juanda tak lagi menjadi satu-satunya pintu. Kediri mulai mengetuknya. ade/wan