,

Kediri Punya Destinasi, tapi Belum Punya Strategi Wisata yang Terintegrasi

Kediri, areknews – Kediri tidak kekurangan objek wisata. Sumber mata air, situs sejarah, bangunan bersejarah, taman kota, hingga wisata kuliner tersedia. Namun, banyaknya destinasi belum berbanding lurus dengan kemampuan kota ini menjual pengalaman wisata. Wisatawan bisa datang, berkunjung, berfoto, lalu pulang tanpa harus menghabiskan waktu lebih lama di Kediri.

Di sinilah persoalan mendasar pariwisata Kota Kediri: bukan semata-mata kekurangan destinasi, melainkan belum kuatnya integrasi antardestinasi menjadi satu produk perjalanan yang memiliki daya tarik ekonomi.

Kesenjangan itu menjadi perhatian komunitas jurnalis GARANG (Gabungan Sembarang) melalui kegiatan Riding Wisata Ceria, (31/10/ 2026) sabtu pagi. Puluhan jurnalis dari berbagai media menyusuri sejumlah objek wisata menggunakan sepeda motor. Mereka memotret potensi sekaligus persoalan yang perlu dijawab jika Kediri serius membangun sektor pariwisata.

Rombongan berangkat pukul 07.15 WIB dari bekas area parkir Pacific, Jalan Stasiun. Setelah mendapat pengarahan dari Adi Sutrisno, Kabid Wisata IMI Kota Kediri, peserta bergerak menuju Sumber Jiput, Alun-Alun Kota, Klenteng Tjhoe Hian Kiong, Jembatan Brawijaya, Taman Sekartaji, dan berakhir di Taman Wisata Goa Selomangleng.

Ketua GARANG, Budi Arya, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi jurnalis untuk mengangkat potensi wisata yang belum tergarap optimal. Menurut dia, sejumlah destinasi sebenarnya memiliki peluang untuk dikemas menjadi satu paket perjalanan terpadu.

“GARANG merupakan gabungan beberapa elemen jurnalis yang bersinergi dengan pihak terkait. Agenda saat ini mengangkat potensi wisata Kota Kediri. Kami menilai rute tadi merupakan aset dan paket wisata yang patut diapresiasi agar kelak menjadi paket wisata terintegrasi secara nyata,” ujar Budi.

Persoalannya, promosi tidak bisa terus-menerus diperlakukan sebagai pekerjaan memublikasikan objek wisata. Publikasi hanya pintu masuk. Setelah wisatawan datang, pemerintah harus memastikan tersedia akses, fasilitas, informasi, atraksi, dan layanan yang membuat mereka ingin melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Ketua PWI Kediri Raya, Bambang Iswanyoedhi, mengingatkan bahwa sasaran pengembangan wisata seharusnya tidak berhenti pada meningkatnya jumlah kunjungan. Wisatawan dari luar daerah perlu didorong untuk berbelanja, menikmati kuliner, dan menggunakan jasa pelaku usaha lokal.

Ketua SMSI Kediri, Jacob Bastian, juga menilai promosi harus dilakukan secara konsisten dan ditopang fasilitas yang memadai. Sebab, promosi tanpa kesiapan destinasi hanya akan menciptakan ekspektasi yang belum tentu sebanding dengan pengalaman pengunjung.

Gambaran potensi pasar terlihat di Sumber Jiput. Wagiman (66), petugas kebersihan di lokasi tersebut, menyebut jumlah pengunjung pada akhir pekan bisa mencapai 500 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Kediri, tetapi juga Nganjuk, Surabaya, dan Malang. Wahana perahu bebek dan suasana asri menjadi daya tarik bagi wisatawan keluarga.

Suraji (44), warga Ngronggo, mengaku senang mengajak keluarganya berwisata ke tempat tersebut. Pemandangan yang menyenangkan dan biaya rekreasi yang relatif terjangkau menjadi alasan dirinya memilih Sumber Jiput.

Tetapi, cerita berbeda muncul di Goa Selomangleng. Destinasi yang menyimpan nilai sejarah tersebut masih menghadapi persoalan pasokan air bersih untuk kolam yang mengandalkan PAM dengan biaya cukup mahal. Lebih ironis lagi, belum tersedia pemandu wisata yang dapat menjelaskan sejarah kawasan kepada pengunjung.

Padahal, nilai jual Goa Selomangleng justru terletak pada kekayaan sejarahnya. Tanpa pemandu dan narasi yang memadai, situs bersejarah itu berisiko hanya menjadi objek untuk dilihat dan difoto. Pengunjung kehilangan kesempatan memahami nilai budaya yang seharusnya menjadi keunggulan destinasi.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa membangun pariwisata tidak cukup dengan memiliki objek yang menarik. Destinasi membutuhkan pengelolaan, interpretasi sejarah, fasilitas, dan pelayanan yang mampu mengubah kunjungan menjadi pengalaman.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, Un Ahmad, mengakui keterbatasan potensi wisata alam di daerahnya. Kediri tidak memiliki pantai, gunung, air terjun, maupun perkebunan yang lazim menjadi magnet wisata alam. Karena itu, pemerintah memilih mengembangkan kekuatan sejarah, seni budaya, kuliner, dan wisata perkotaan.

“Kita tidak mempunyai pantai, tidak mempunyai gunung, tidak mempunyai air terjun, perkebunan dan sebagainya. Tetapi kita harus memunculkan keunggulan-keunggulan yang lain. Misalnya sejarah Kota Kediri, seni budaya, kuliner, dan wisata perkotaan,” ujarnya.

Pemkot Kediri saat ini memperbaiki Museum Airlangga melalui kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan. Pemerintah juga merancang paket wisata perkotaan yang menghubungkan kawasan bersejarah, pusat kota, dan sentra kuliner. Pelaku UMKM diharapkan ikut menikmati perputaran ekonomi dari aktivitas wisata tersebut.

Namun, rencana itu masih harus dibuktikan melalui pelaksanaan di lapangan. Integrasi destinasi membutuhkan lebih dari sekadar garis rute di atas peta. Pemerintah perlu memastikan setiap objek memiliki standar pelayanan, fasilitas layak, informasi yang jelas, akses yang nyaman, serta keterhubungan dengan pelaku ekonomi lokal.

Kegiatan GARANG menjadi pengingat bahwa potensi wisata tidak otomatis berubah menjadi pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan: membangun destinasi yang saling terhubung, memperbaiki pelayanan, dan menyusun strategi promosi yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pariwisata bukan seberapa banyak objek wisata dipublikasikan atau seberapa ramai sebuah acara digelar. Ukurannya adalah berapa banyak wisatawan yang datang, berapa lama mereka tinggal, berapa banyak uang yang dibelanjakan, dan seberapa besar masyarakat lokal menikmati manfaatnya. (ade/wan)

Latest posts
Search