Polemik Pasar Tak Berujung, Perumda Pasar Joyoboyo Sebut Ada Dugaan Jual-Beli Hak Guna Kios

Kediri, areknews— Direktur Utama Perumda Pasar Joyoboyo Djauhari Luthfi menyebut penguasaan 145 kios oleh 18 pedagang sebagai indikasi penguasaan berlebih dan dugaan jual-beli hak guna kios. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers Kamis, (17/9).

Aturannya, satu pedagang maksimal mengelola lima kios. Kios merupakan aset daerah sehingga tidak boleh diperjualbelikan atau dikuasai sepihak. Argumen itu terdengar tegas. Tetapi ada satu angka yang membuat ketegasan itu seperti berhadapan dengan cermin: 82 kios tercatat tutup.

Sementara itu, di Blok G dan G1, pedagang bahkan menyebut sekitar 50 kios kosong. Mereka tidak keberatan bila warga lain datang berjualan. Kalau kios benar-benar menjadi barang langka karena dikuasai segelintir orang, mengapa begitu banyak ruang dagang justru menunggu diisi?

Pedagang lama punya jawaban sendiri. Mereka mengatakan masalah utama Pasar Pahing bukan perebutan kios, melainkan pasar yang kehilangan kehidupan.

Pedagang pakaian yang dahulu sekitar 60 orang kini tersisa tujuh. Pembeli menyusut. Omzet tergerus perdagangan daring. Sebagian pedagang memilih berhenti karena biaya berjualan lebih nyata daripada keuntungan yang didapat.

Maka muncul pertanyaan yang mungkin lebih mengusik daripada tudingan monopoli: Untuk apa berebut mengatur siapa menguasai kios, jika kios-kios itu sendiri semakin sulit menemukan orang yang mau berjualan di dalamnya?

Perumda tentu memiliki kewajiban menertibkan aset dan administrasi. Pedagang juga wajib memenuhi kewajiban retribusi. Tetapi pasar bukan spreadsheet.

Di atas kertas ada 479 kios. Ada 397 yang tercatat aktif. Ada 82 yang tutup. Ada 145 yang disebut dikuasai 18 pedagang. Namun di lapangan, pedagang lama melihat sesuatu yang jauh lebih sederhana: pasarnya sepi.

Ironinya menjadi semakin tajam ketika ancaman penertiban dapat berujung pada pengosongan kios. Sebab bila kios yang dianggap bermasalah akhirnya dikosongkan, pertanyaan berikutnya sederhana: siapa yang akan datang mengisinya? Dan kalau tidak ada yang datang, pasar mungkin berhasil menjadi lebih tertib secara administrasi—sekaligus semakin kosong secara ekonomi.

Di Pasar Pahing, rupanya yang paling ramai bukan perdagangan, melainkan perdebatan tentang siapa berhak menempati kios yang semakin sedikit diminati. Barangkali persoalannya bukan lagi siapa menguasai kios.

Barangkali yang sedang benar-benar kehilangan penguasaan adalah pasar itu sendiri: kehilangan pedagang, kehilangan pembeli, dan perlahan kehilangan alasan orang untuk datang. ade/wan

Latest posts
Search